salam

selamat datang ke blog saya , tulisan-tulisan kecil seputar manusia dalam dunia kerja , pendidikan dan keluarga dapat anda ikuti di blog ini. semoga bermanfaat buat para pembaca

Kamis, 08 Juni 2017

KOLAK TERAKHIR (Sebuah Cerpen di bulan Ramadhan oleh Nur Janah AlSharafi)


            Pohon pisang kepok itu ada sejak aku lahir , kabarnya nenek buyutku yang hobi menanam pisang, kelapa, mangga, jambu dan beberapa pohon lainnya yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan dapur. Pisang dan kelapa khususnya, serasa pohon wajib bagi nenek buyut yang menurun ke nenek kemudian ke ibuku.  Ibuku juga tak tahu persis mengapa dan kapan dimulai, tapi jelasnya tradisi memasak kolak pisang setiap ahad sore  adalah tradisi turun temurun yang rasanya haram untuk dilawan. Lebih haram lagi dilawan karena ini tidak hanya berurusan dengan lidah dan perut, namun lebih berurusan dengan urusan sosial dan spiritual. Kolak pisang, hanya kolak pisang yaitu pisang kepok ditambah santan ditambah gula merah dan dicampur sedikit gula pasir serta pandan.    Itu saja ? ya memang itu saja. Tapi 20 rumah tetangga di kiri kanan depan belakang rumah kami telah terbiasa menikmatinya setiap ahad sore. Kolak yang dimasak oleh ibu sejak bakda zuhur, akan beredar di rumah tetangga di bakda ashar.  Itulah silaturrahmi indah yang dirajut sejak nenek buyutku hingga generasi ibu.
“Mar, kamu adalah anak perempuan ibu satu-satunya. Ibu harap kamu melanjutkan tradisi perempuan pendahulu di keluarga kita” tegas ibu di sore awal ramadhan ini. Awalnya aku tidak terlalu serius mendengar petitah dan petitih ibu, namun melihat tekanan suara dan nada yang diucapkannya mau tak mau aku harus rela meletakkan novel yang tengah kubaca.  Aku jadi diam dan takzim melumat setiap kata yang meluncur dari mulut ibu. Persoalan kolak, melanjutkan tradisi merajut silaturrahmi dan melanjutkan tradisi sedekah menjadi  bingkai pembahasan ibu tentang makna semangkuk kolak.
Ibu Hajjah Alfiah, begitu orang-orang memanggil ibu. Ibu seorang perempuan yang tangguh. Sejak berpisah dengan ayah lebih kurang 20 tahun yang lalu, ibu memilih hidup sendiri membesarkan kami bertiga putra putrinya. Aku , Maria anak tertua , calon sarjana politik yang terperangkap dalam hobi dan pekerjaan seni peran. Kedua adik laki-laki ku  Bagja  dan Bahagia,  si kembar  yang tengah kuliah di tahun pertama fakultas teknik elektro. Kadang aku merasa khawatir apakah aku mampu meneruskan tradisi keluarga ini, meskipun disisi lain aku begitu optimis akan mampu memegang amanah keluarga ini. Optimismeku bukan tanpa alasan, karena sejak kecil aku melihat betapa pohon pisang kepok di belakang rumah senantiasa berbuah silih berganti dengan pohon pisang baru yang mudah sekali ditanam serta subur. Belum lagi beberapa batang kelapa rasanya entah kapan yang tak ada buahnya, buah kelapa itu begitu hangat bergerombol seperti tak sabar menunggu giliran dinikmati pemiliknya.
“Itulah Mar, rezeki yang Allah swt berikan buat keluarga kita. Nikmat Allah swt berupa tanaman yang senantiasa berbuah subur. Itu semua bukan kebetulan Mar, semua sudah diatur Allah swt  dan kita harus berbagi buat sesama” tegas ibu sekali lagi.
“Ibu memang orang tua tunggal Mar, namun ibu diberi rahmat oleh Allah swt punya kalian anak-anak ibu yang baik dan sholeh. Ibu juga punya rumah warisan leluhur yang kita jaga bersama. Ibu juga punya ketrampilan menjahit . Biarlah kita alirkan rahmat Allah swt ini buat sekeliling kita” tutur ibu lebih dalam.
“Mar , kiri kanan kita, depan belakang kita bukan semuanya orang mampu. Bahkan beberapa anak yatim dan dhuafa juga ada disana. Biarlah semangkuk kolak resep keluarga kita ikut dinikmati oleh mereka disamping hal lain yang bisa juga kita bagikan” sekali lagi ibu menegaskan.
Penjelasan ibu ini membuatku makin paham bahwa kolak ternyata tak hanya sekedar kolak. Aku jadi lebih menghayati setiap episode pembuatan kolak sosial dan spiritual ini. Mulai memetik buah pisang, memetik kelapa, memotong pisang, memarut kelapa, memeras santan, menyisir gula merah, memotong pandan, menyendok gula pasir, menjumput sedikit garam, mengaduk di panci hingga menjadi kolak. Aku merasa setiap sel dari pisang kelapa gula pandan itu berbicara bernyanyi bersyukur berzikir. Entah mengapa sejak penjelasan ibu kepadaku tentang kolak ini, aku semakin semangat ketika ibu memutuskan untuk  menambah frekuensi pembagian kolak ini di bulan ramadhan. Kolak-kolak ini akan berjalan mengetuk pintu silaturrahmi pada setiap hari jumat dan ahad.
“Kamu mau kan mar membantu ibu memasak kolak  2 hari tiap pekan selama ramdhan ini ?” tanya ibu padaku. Aku mengangguk dan kuberikan bonus senyum terindah pada ibuku.  Apalagi ramdhan ini ibu membeli mangkuk baru warna orange yang cetar untuk wadah si kolak tercinta. Kabarnya mangkuk orange tersebut ibu dapatkan di toko langganan ibu di pasar dengan harga khusus karena menyambut ramadhan.  Dua lusin mangkuk orange bertutup indah terkesan mewah, meski isi di dalamnya tetap saja kolak pisang.
“Mar, mangkuk orange ini lebih terkesan rapi dan sopan untuk menghantarkan hasil masakan kolak terbaik keluarga kita” jelas ibu sambil senyum.  Sekali lagi aku jadi minat pandangi berkali-kali si mangkuk orange, untuk berusaha menafsirkan kata rapi dan sopan yang ibu sebutkan tadi. Iya benar juga kata ibu, si mangkuk orange ini memang cantik, keren, rapi dan sopan.
Sudah dua ahad dan dua jumat  si mangkuk orange dan kolak berjalan mengunjungi  tetangga sekeliling kami.  Kami penduduk kampung Bintang Barat mengunyah kolak dengan nikmat. Kami penduduk kampung Bintang Barat bermunajat pada Allah swt di ramadhan ini dengan khusyuk dan tentram. Namun tadi pagi, jikapun ada kolak tentu akan tumpah berserakan.  Nenek, kakek, ibu, bapak, pemuda, pemudi, anak anak  yang sedang mengaji tersedak diam. Ceria kampung berubah muram. Ibuku, Hajjah Alfiah  ikut tercekat diam mencekam. Ada apa dengan kolak ? Ada apa dengan kampung Bintang Barat ?
Penduduk Kampung Bintang Barat yang telah lebih limapuluh tahun menghuni kampungnya, tiba-tiba tadi pagi menerima sepucuk surat dari  Kantor Urusan Tanah.  Kampung kita 2 pekan setelah Idul fitri harus dikosongkan, karena telah diterbitkan sertifikat untuk sebuah perusahaan konglomerat yang akan membangun apartemen mewah di lokasi ini. Kampung Bintang Barat dipandang kumuh untuk keindahan dan pengembangan pariwisata kota.
“Mar, kita tetap memasak kolak. Barangkali ini kolak terakhir ya Mar” kata ibu dengan sendu. Saat ini aku hanya mampu usap bulir air matanya, meski tekadku harus bersuara . Suara warga kampung Bintang Barat, suara kolak, suara anak anak, suara perempuan, suara lelaki. Kolak dan keadilan bercengkrama dalam azan indah bulan ramadhan di kampung Bintang Barat.  “Laa hawla wa laa quwwata illa billah “ .........Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata
Batoh, 14  Ramadhan 1438 H ( jam 02.46)

 #kolakRTC #ramadhan #cerpen #korbangusuran #Allahswtmahaadil

MERAJUT CINTA DI MEMORIAL WALK (Sebuah Cerpen dari Memorial Walk, Newcastle NSW)



          Memasuki kota Newcastle di kawasan New South Wales menebarkan aroma indah di jiwa. Pepohonan hijau di kiri kanan jalan yang di kotaku sering jadi mangsa gergaji dengan alasan penataan kota, disini bebas merdeka menjulang indah dengan suburnya. Awalnya kita akan disambut oleh indahnya Mac Quarie Lake yang entah berapa luasnya. Aura air danau yang mampu hadirkan nuansa damai ini bisa saja disetarakan dengan Toba atau Maninjau.  Meskipun Mac Quarie tentu punya pesona dan cerita sendiri.
 Arsitektur kota yang ramah dan humanis membuat kota Newcastle mengkomunikasikan karakter penduduknya yang ramah dan bersahaja. Saat ini musim semi telah berakhir dan musim panas baru dimulai, matahari Newcastle bagiku tetap saja terasa hangat di kulit. Aku tak tahu persis apakah ini benar-benar hangat atau jiwaku yang sebenarnya menyambut matahari dengan aroma yang berbeda.
          Sang Khaliq begitu pemurahnya memberikan negri ini sejuta burung, sama seperti di Sydney yang setiap pagi aku selalu mendengar merdunya symphoni burung gagak  merpati atau burung lainnya. Disini kemurahan itu tetap kudapat berupa symphoni nan alami parade orkestra burung.  Ada satu pesona yang tak boleh dilewatkan di kota ini yaitu Newcastle Memorial Walk. Kita tak usah bermimpi akan menjumpai bangunan spektakuler disitu, karena Newcastle Memorial Walk benar-benar sebuah area jalan kaki yang dibangun selayaknya jembatan memanjang di tepi pantai. Bangunan memanjang 450 meter ini memang unik dan memiliki sejuta kisah tersendiri. Bangunan ini dirancang untuk mengenang para tentara Australia yang gugur di medan pertempuran. Beberapa prasasti dan tulisan kenangan yang sengaja diabadikan akan dapat kita temui dengan mudah sehingga kita merasa lebih menyatu dengan area ini.
          Selagi menyimak pesona Newcastle Memorial Walk dan kisahnya, pandangan mataku terhenti pada sepasang insan yang tengah berjalan . Sang laki-laki tetap terlihat gagah dan tampan meski berjalan dengan bantuan tongkat dan terseok-seok. Sementara sang perempuan berhijab dan menampilkan sosok perempuan cantik, anggun, rapi serta terkesan perempuan terdidik. Kutatap langkah mereka berdua sejak mereka memarkir mobil putih di Park yang tergelar indah sekitaran area Memorial Walk.
Jika ditilik dari usianya, mereka berdua adalah pasangan muda sekitar 30 an tahun, pengantin baru atau paling tidak baru beberapa waktu menikah.
‘Sweetheart, kau kecewa aku datang dengan kondisi seperti ini’ ujar sang lelaki
‘Aku tak pernah kecewa tentang apapun penampilan fisikmu Sweetheart, aku bahkan siap jika kau kemudian hadir di depanku tanpa ujud sekalipun’ jawab sang perempuan
‘Aku harus penuhi panggilan tanah air, meskipun aku harus korbankan studiku. Aku paham kalau perang itu pahit dan kejam, betapa aku harus membasuh kedua tanganku dengan darah dan peluru. Jika aku harus memilih tentu aku lebih memilih berkutat dengan buku dan pena di kampus, jika aku harus memilih tentu aku lebih memilih memandang cantiknya wajahmu dan indahnya bunga-bunga di taman kampus kita. Namun aku lelaki , lelaki sejati akan tersungkur jadi pecundang jika ia tak mampu membela agamanya, bangsanya, tanah air nya’
‘Aku kehilangan rasa percaya diriku ketika pulang dalam keadaan seperti ini, namun aku bertekad melamarmu . Aku tak yakin, ragu, gundah, gelisah. Namun hanya Allah swt lah yang menguatkan langkahku dan alhamdulillah kau menerimaku sebagai suamimu’
‘Aku tinggalkan perang untuk mengejar cintaku yang lebih dulu tiba di Newcastle ini, aku kini menjadi sebenar-benarnya cintamu’
Sepasang pengantin baru ini ternyata warga sebuah negri indah yang telah hancur oleh perang.  Duduk berdua di taman , mata mereka berdua menerawang jauh memandang keindahan taman. Mereka membangun angan tentang keindahan negrinya yang telah hancur oleh bom dan mesiu. Sesekali kulihat senyum mengulum di bibir mereka berdua , barangkali bangunan angannya telah selesai. Bangunan keindahan sebuah negri, masjid, sekolah, taman, gedung-gedung bahkan angan tentang tawa canda penduduk sentero negri.
 Tak kudengar lagi suara keduanya, mata mereka masih fokus dengan aneka pemandangan yang ada. Mata mereka berdua seperti hendak melahap semua warna, semua bentuk dan semua keindahan. Mata mereka melahap semua itu bukan karena mereka tamak, namun karena mereka adalah insan yang luka. Insan yang luka jiwa luka raga karena polah penjajah yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Keduanya telah menanggalkan mimpinya untuk bisa ber-ijab qabul di masjid indah kebanggaan negrinya. Mereka telah bersyukur dan terus bersyukur bahwa mereka masih diberi kesempatan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            hidup oleh sang Khaliq. Mereka berdua masih diberi kesempatan berijab qabul di mesjid kecil di kota Newcastle ini. Mereka berdua bersyukur .
‘Sweetheart, kau masih bisa melihat Aleppo[1] kita?’
‘Sweetheart, kau masih bisa mencium wangi bunga kota Aleppo kita?’
‘Sweetheart, masihkah kau bisa melihat indahnya masjid Umayyah[2]?’
Mata perempuan itu berkaca-kaca, guliran perak mengucur di sudut bening matanya.             (New castle 30112016 dan Batoh 21032017)





[1] Aleppo adalah sebuah kota yang indah di negri Suriah, yang kini telah hancur oleh peperangan
[2] Masjid Umayyah adalah masjid terbesar di kota Aleppo, Suriah. Masjid ini terletak di distrik al-Jalloum kota tua Aleppo.

MAMAH WA DAN IMLEK


            Perempuan tengah baya, berkebaya encim, bersanggul cepol dan senantiasa tersenyum manis adalah sosok mamah Wa tetangga sebelah rumahku. Beberapa tahun lalu aku masih mendengar kabarnya melalui Cici Lis (salah satu putrinya bahwa mamah sehat dan kini tinggal di kota Tegal dengan putra bungsunya Wawan). Suasana Imlek seringkali membuat ingatanku berkelana jauh mengunjungi kotak memoriku tentang sosok mamah Wa dan papah Cwan. Sosok keluarga mereka berbeda jauh dengan beberapa tetangga Tionghoa di Apartemen yang lalu lalang di Lift  namun sangat jarang tersenyum konon pula bertegur sapa. Sosok mamah Wa dan papah Cwan , boleh dibilang mirip sosok papah Afuk di film ‘Cek Toko Sebelah’ yang begitu akrab dan membaur dengan lingkungan sosialnya.
            Keluarga mamah Wa  dan papah Cwan menyewa rumah orang tuaku yang letaknya persis di sebelah rumah tempat tinggal keluargaku di kota Semarang. Sebegitu terbukanya ibundaku (Allahuyarham Asiah binti Khusi Muhammad, beliau adalah istri pertama abah dan merawatku sejak usiaku 8 tahun), hingga membuat pintu khusus yang dapat menghubungkan rumah orang tuaku dengan rumah sewa tempat mamah Wa sekeluarga tinggal. Papah Cwan menggunakan ruang tamu keluarganya untuk membuka persewaan komik. Komik yang disewakan adalah komik-komik yang mendidik seperti dongeng-dongeng kuno karya HC Andersen, komik Mahabarata, komik Ramayana, komik silat  Kho Ping Ho, komik Indonesia seperti Gundala Putra Petir, Novel remaja karya Barbara Cartland, novel karya Pearls Buck, novel NH Dini, Mira W dan masih banyak lagi. Meskipun bisnisnya adalah menyewakan komik, namun papah tetap mengutamakan pendidikan buat anak dan remaja yang menyewa buku di tempatnya. Ketika Sekolah Dasar, aku dan teman sebayaku yang saat itu usia SD hanya boleh membaca komik kategori anak-anak seperti dongeng HC Andersen. Dongeng-dongeng khayalan seperti putri salju, rumah roti, sepatu merah, little mermaid, gadis korek api dan masih banyak lagi. Jangan pernah bermimpi bisa membaca buku-buku komik remaja, papah Cwan akan menegur dengan keras pelanggan yang berusaha membujuk untuk menyalahi aturan ini. Papah dan mamah tak hanya bisnis namun juga ikut mendidik anak dan remaja yang jadi pelanggan persewaan komiknya.
Persewaan komik ini buka mulai siang hari jam sepulang sekolah. Kecuali hari libur yaitu Jum’at (beberapa anak penyewa komik bersekolah di sekolah Islam yang liburnya hari Jum’at) atau Akhad , akan dibuka 1 hari full. Meskipun jika libur anak-anak bisa seharian nongkrong di persewaan komik papah, namun karena mayoritas adalah ana-anak muslim maka papah akan menegur seperti ini: ‘Nok...Nang....pulang ya, sudah azan Zuhur , shalat dan makan dulu ya  ke rumah masing-masing’
‘Nok....Nang[1]....ayo pulang dulu nanti dicari orang tuanya’
            Mamah Wa juga punya kesibukan bisnis. Mamah adalah pembuat  kue basah kelas satu di eranya. Tangan mamah begitu luwes mengaduk tepung dan bahan-bahan lainnya hingga tersaji kue yang cantik dan maknyus. Beberapa kue produksi mamah antara lain adalah : kue Ku, lapis, bika, onde-onde, bugis, ketan kelapa, cantik manis, nagasari dan masih banyak lagi. Kue-kue cantik buatan mamah Wa ini tak perlu dititip ke toko atau dijual langsung. Hal ini karena para pelanggan setia akan datang ke rumah mamah  untuk membeli langsung atau untuk dijual lagi. Oleh karena keluargaku dan keluarga mamah dan papah sangat dekat, aku pun kena berkahnya sehingga sering dapat kue gratis dari mamah atau sewa komik gratis dari papah.
            Mamah Wa bukan tetangga biasa, ia bahkan kadang memperlakukanku seperti anaknya sendiri. ‘Nok, sini mamah kepang rambutnya biar rapi’. Akupun mau dengan senang hati disisir dan dikepang rambut sama mamah. Hal yang kukagumi dari mamah adalah penampilannya yang selalu rapi. Rambut disisir rapi dengan cepol kecil asli sebagai sanggulnya. Berbedak tipis dan berparfum lembut adalah ciri khas mamah Wa. Anak-anak termasuk diriku hafal benar dengan bau parfum bunga yang dipakai mamah, sehingga aroma nilah yang sering menyadarkan kehadiran mamah Wa di dekat kami. Pernah satu hari ibuku ke luar kota dan simbok (mbok Sumirah) sakit sehingga di rumah belum masak. Oleh karena  sudah jam makan, mamah menawarkan aku untuk makan siang.
‘Nok, makan siang disini ya. Mamah masak sayur lodeh sama sambal goreng udang’
‘Tapi mah, saya takut entar pancinya bekas babi’ dengan polosnya aku mengulang kata-kata ibuku’
‘Nok, mamah dan papah gak makan babi, sapi dan kambing. Mamah dan papah makan sayur, buah, ikan, udang, telor  dan ayam’
‘anak-anak mamah dan papah kalu makan babi di restoran, bukan di rumah’
Di usia belia itu, percaya saja aku dengan ketulusan orang tua ini sehingga dialog itu diakhiri dengan jamuan makan siang yang kulahap dengan nikmat.
            Mamah Wa senang jika aku mau makan kue atau masakannya, keseimbangan hatinya terbalas karena ibuku juga sering menyajikan makan, kue bahkan berbagai jenis es buat anak-anak yang main ke rumah kami termasuk anak mamah Wa.  Mamah juga senang jika melihatku rajin shalat dan mengaji,  jika melihatku bermain lebih awal  ia sering bertanya apakah aku sudah mengaji. Mamah dan papah   selalu melarangku untuk menyewa komik untuk dibawa ke rumah jika bukan hari libur.  Namun begitu papah tetap dapat income, karena hari biasa anak-anak tetap bisa membaca komik di tempat papah pada sore hari sepulang mengaji . Mamah dan papah memang pebisnis, namun karakter anak-anak termasuk anak-anak tetangga dan lingkungannya sangat mereka perhatikan.
            Mamah, renda halus kebaya encim yang dipakai mamah waktu imlek biasanya bernuansa putih dengan bordiran pink plus biru muda. Sepertinya bordiran lembut itu sengaja dicipta untuk seorang perempuan yang punya hati selembut mamah Wa. Mata kecilku waktu itu terkagum dengan rangkaian bunga demi bunga di baju mamah.  Baju halus ini seingatku jarang banget muncul. Biasanya ketika imlek atau ketika mamah dan papah berkunjung ke rumah secara resmi saat lebaran.  Mamah dan papah sekeluarga makan lontong opor, kue-kue dan berbagai jajanan lain buatan ibuku. Mamah dengan baju renda halusnya dan papah pakai kemeja putih.
            Ingatan kecilku tentang mereka sekeluarga mengajarkanku makna sebuah perbedaan. Abah sering bilang  bahwa meski bukan muslim keluarga papah Cwan dan mamah Wa baik kepada kami dan tetangga muslim lainnya. Keluargaku dan Keluarga mamah Wa mampu menyandingkan lontong opor plus kue keranjang secara apik dalam sebuah keranjang kehidupan. Kehidupan anak bangsa entah itu pribumi seperti teman-teman kecilku dulu, atau keturunan Arab seperti aku dan beberapa temanku, atau keturunan Tionghoa seperti keluarga mamah Wa dan papah Cwan. Hidup berdampingan tanpa curiga, tegur sapa canda ria jalani hari-hari penuh makna. Mamah Wa .......terima kasih pernah ikut mendidikku dan terima kasih pernah mengepang rambutku

Tanjung Duren,  16 Januari 2017



[1] Nok adalah panggilan untuk anak perempuan, Nang adalah panggilan untuk anak laki-laki di kota Semarang

AYAH AYAH CINTA (Kisah kecil dari Sydney)



            Lelaki muda sekolahan, pernah menjadi CEO di beberapa corporate besar kemudian rela mengabdikan dirinya buat keluarganya adalah sebuah sisi unik kehidupan yang sayang untuk dilewatkan. Meninggalkan karir, teman-teman dan kehidupan lumayan mapan bagi seorang lelaki bisa disamakan dengan kenekatan seorang mahasiswa yang meninggalkan studi untuk ikut wajib militer demi membela tanah airnya. Terus terang jika dibedah dengan menggunakan rumus ilmiah yang digodog dengan kacamata kognitif , hal ini tak akan pernah terpecahkan. Kenekatan Zaldy (nama samaran versi saya) menutup sementara lembaran hidup yang penuh tawa canda, nikmatnya berkendara, empuknya kursi kantor, wanginya parfum dan flamboyannya penampilan patut diacungi sepuluh jempol. Zaldy jelas melakukan semua ini dengan rumus hati.
            Mendampingi seorang istri cantik dan cerdas yang menempuh studi S3 (program doktor) itu saja sudah merupakan keikhlasan yang luar biasa. Tanggung jawab seorang imam, tanggung jawab seorang mahram sepertinya sudah begitu terpatri di hatinya sehingga keputusan tersebut bergulir begitu saja. Kepahaman agama menjadikan Zaldy pasang badan menjaga istri tercintanya meraih impiannya. Tentu kalian akan  ada yang bertanya, apakah Zaldy tak punya impian ? Tentu punya. Laki-laki secerdas dia tak mungkin jika tak punya impian dalam hidupnya. Dalam posisi ini Zaldy mewakafkan diri dan impian egonya untuk sesaat disimpan di laci kehidupan. Atau Zaldy justru tengah merangkai impian keluarga melalui proses tersebut. Ia bersama Lina istrinya dan kedua putrinya yang cantik dan cerdas sedang melukis potret impian masa depan mereka. Boleh saja orang diluar sana melecehkan dan mencemooh keputusan Zaldy, bagi Zaldy itu sah sah saja. Yang terpenting baginya adalah mereka sekeluarga sudah berembug dan memutuskan mana yang terbaik.         Walaupun keputuan Zaldy telah menjungkir balikkan mitos tentang ayah, namun apa urusannya mitos jika itu menyesatkan.
            Mitos ayah biasanya masih berkutat pada beberapa hal berikut ini :
1.    Ayah adalah seseorang yang wibawa dan punya tugas menegakkan disiplin di rumah dengan segenap aturan dan larangannya.
2.    Ayah adalah seseorang yang sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah sehingga waktu yang diluangkan untuk keluarga hanya sedikit atau bahkan sisa sisa waktu saja.
3.    Ayah adalah seseorang yang tak akan mau mengorbankan karir atau pekerjaannya demi keluarga
4.    Ayah adalah seseorang yang akan duduk manis menikmati hidangan yang dimasak dan/atau disediakan oleh istrinya
Daftar ini jika dilanjutkan bisa saja makin panjang, namun tetap saja isinya adalah segala hal yang maskulin. Segala hal yang berurusan dengan perilaku masif otak kiri yang ketat, kaku, terprogram serta terjebak dalam rangkaian mitos demi mitos yang memenjarakan jati diri hakiki kemanusiaan seorang laki-laki. Sosok ayah dibangun melalui  ‘tukang sosial dan budaya’  yang memilih ‘batu bata, semen, cat ,genteng ‘  dan sebagainya sehingga ‘bangunan’ sosok ayah menjadi demikian[1].
Zaldy berhasil lepas dari belenggu mitos-mitos tersebut, ia benar-benar menjadi dirinya sendiri menjadi sosok ‘ayah ayah cinta’ buat kedua putrinya dan tentu suami tercinta bagi istrinya. Kesan pertama yang saya tangkap adalah ketika saya dan suami berkunjung ke rumah keluarga Zaldy dan Lina untuk pertama kali. Diundang sarapan pagi dengan menu nasi gurih ala Aceh tentu merupakan sesuatu yang wow di negeri Kanguru. Nasi gurih, telor balado, daging empal pedas, tauco tahu plus cabe hijau, tumis uang plus kerupuk emping adalah menu mewah bagi musafir seperti kami waktu itu. “Kasihan Lina sedang menghadapi ujian proposal, jadi memang ini semua saya siapkan sendiri” dengan santai ia menjawab ketika deretan menu lengkap ini diusut oleh para tamu siapa juru masaknya. Padahal sebelumnya kacamata kuda kebodohan saya menebak bahwa itu semua buah karya Lina.  Lina tentu juga bisa memasak, bahkan konon kabarnya Lina cukup pakar membuat berbagai kudapan seperti kue basah, cake, pizza  dan sebagainya.


Mendampingi istri melanjutan studi tak membuat Zaldy hanya mengurus urusan domestik saja. Zaldy ternyata ayah dan suami yang piawai manajemen waktunya. Ia tetap bekerja meskipun pekerjaan yang ditekuni tentu beda dengan pekerjaannya dulu. Kerja skill yang ditekuninya di negri orang cukup membuktikan bahwa ia laki-laki yang bertanggung jawab memberikan nafkah untuk keluarga. Hehehe seneng lihatnya ketika putri bungsunya yang cantik selesai mandi dan berbedak wangi mengenakan T Shirt bertuliskan ‘Daddy’s Sweet Heart’.  Ketika kami tanyakan siapa sih yang ‘Daddy’s Sweet Heart’ itu , kakak atau adik ?  Dengan pede nya si adik menyampaikan bahwa dialah orangnya. Si kakak yang sedang membantu membersihkan meja hanya tersenyum mendengar jawaban adiknya. Saya yakin kedua belahan jiwa keluarga itu tentu sama dan sseimbang dicintai oleh ayah dan bundanya.
Zaldy telah menanggalkan sosok ayah tradisional[2] , ia sukses membangun sosoknya sendiri . Zaldy adalah ayah yang hadir di jiwa anak-anaknya, ayah yang senantiasa siap menyuapi kasih sayang dan perhatian buat kedua putrinya. Zaldy juga sosok suami yang dicintai dan menjadi kebanggaan istrinya. Boleh saja S3 diraih, namun sebagai istri  tentu saja Lina sangat menghormati dan menghargai keikhlasan sang suami untuk menjaga dan memperjuangkan keluarganya. Zaldy sang ayah ayah cinta ini berjalan mengikuti roller coaster kehidupan dengan jurus cinta, ikhlas dan bebas jaim.  Barakallah ayah Zaldy sekeluarga , beruntung kedua putri anda !

Ampang-Kuala Lumpur, 0501207  Jam 23.00




[1] Seward, Stevens dan Yeatts (2013)  menyatakan bahwa belief-belief tentang ayah dan tingkah laku laki-laki sebagai ayah sebagian besar ditentukan oleh budaya dimana mereka berasal
[2] Ayah tradisional dicirikan sebagai orang yang bekerja keras mencari nafkah (breadwinner), namun seringkali absen (tidak hadir) baik secara fisik maupun emosional dari anak-anaknya (McKeown, 2001)

Kamis, 24 November 2016

CATATAN DARI SYDNEY 2 ( UMI..... UMI GENERASI QUR’ANI)


            Hitam putih kota Sydney memang sangat nyata. Sepertinya para pencari jalan ke syurga yang berdiam di kota ini memang sudah teruji insyaa Allah. Hal ini karena jalan syurga dan neraka gamblang dan kasat mata. Saya tak hendak bercerita tentang jalan neraka, biasanya banyak sudah ditulis lewat laporan selayang pandang hiruk pikuk kehidupan malam kota kosmopolitan seperti ini. Saya jatuh hati pada sosok Umi, sebut saja Umi War (Nama telah saya samarkan). Umi War, sahabat lama yang hampir seperempat abad tak bertemu. Terjalin kembali silaturrahmi , itulah kehendak Allah swt.
Pelukan erat dan jamuan makan malam mengawali pertemuanku dengan beliau sekeluarga. Umi, demikian anak-anak memanggilnya tetap cantik dan gesit seperti waktu muda dulu. Tak banyak berubah penampilannya, satu hal yang berubah makin oke adalah kemampuan bahasa Inggrisnya yang bak native speaker plus kelincahannya menyusuri jalan-jalan kota Sydney dengan mengendarai mobil.
Setelah jelang seminggu saya di Sydney, saya berkesempatan untuk melihat langsung aktivitas Umi sehari-hari. ‘Insyaa Allah saya akan jempuk kakak Jam 16.45, kakak boleh berbagi ilmu dan pengalaman di depan orang tua dan anak-anak didik kami’. Perjalanan menuju tempat umi mengajar merupakan perjalanan yang cukup mengasyikkan, umi banyak bercerita tentang kondisi para orang tua siwa khususnya para ibu, juga kondisi siswa.
 ‘Banyak orang tua khususnya orang tua Indonesia yang khawatir dengan pendidikan anak-anaknya, apalagi kalau si anak sudah remaja. Makanya kegiatan agama menjadi sangat penting untuk fondasi anak-anak kita nanti’
Umi melanjutkan kisahnya tentang pengalamannya mengajarkan Islam di negri ini. Tak terasa sampailah kami di sebuah bangunan sederhana namun cukup asri dan disana saya lihat anak-anak serta para orang tua telah berkumpul. Oleh karena masukan dari Umi banyak ibu maupun anak yang sulit mengontrol emosinya maka sharing sore itu diisi dengan bagaimana melakukan manajemen emosi.
Saya kembali ke sosok Umi, sosok yang komplit insyaa Allah untuk dikategorikan perempuan muslimah modern yang tangguh dan kreatif.  Jika saya gunakan formula PERMA[i], sosok Umi bisa dicandrakan sebagai berikut :
Positive Emotion (Emosi Positif)
Selalu saja tersungging senyum di bibirnya, peduli pada para orang tua khususnya ibu, dan anak muridnya. Umi terlihat mengajarkan anak-anak bukan hanya dengan otak, namun mengajar dengan cinta. Umi merasa positif, ia memotret masa lalu dengan kesukaan , bahkan ia kadang menertawakan kejadian yang menurutnya sedikit konyol di masa lalunya. Ia juga mampu memotret masa depan dengan sejuta harapan (‘kakak, insyaa Allah ke depan dapat kita bangun tempat yang representatif buat anak-anak belajar Islam) . Dan tentunya sosok umi dapat menikmati dan menghargai masa kini. Emosi positif inilah membuatnya mampu 'terbang'  melampaui ruang yang menyekat. Bahkan ia juga dapat berjalan satu langkah di depan dibandingkan dengan yang lain.
Engagement (Keterlibatan)
Umi terlibat penuh dengan kehidupannya. Kehidupan pribadinya ia tampilkan secara apik dengan menyajikan kasih sayang utuh buat suami dan anak-anaknya. Dan wauw nya , si umi juga menyajikan kasih sayangnya buat generasi pelanjut negri. Anak-anak Indonesia di perantauan yang haus pendidikan agama dan akhlaqul karimah.
‘Saya tak bisa hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Anak-anak itu juga anak saya, anak kita semua. Saya sedih jika mereka gagal, saya dan semua para orang tua tentu ingin anak-anaknya sukses duniawi dan ukhrowi’
Menjadi guru bagi jiwa generasi yang tengah mencari adalah panggilan jiwa umi. Oleh karena kegiatan ini panggilan jiwanya, ia merasa terbang tinggi menikmati profesinya sebagai guru generasi. Umi tetap terlibat secara penuh meskipun tak bergaji seperti layaknya orang kantoran. Jika jiwa terpanggil, rupiah atau dolar menjadi ukuran paling akhir.
Relationship (Hubungan)
Hubungan yang terjalin secara kat antara umi sekeluarga dengan para orang tua dan anak-anak membuat proses pendidikan menjadi lebih lancar. Jika di Indonesia sering terlihat hanya sopir atau pembantu yang mengantar jemput anak sekolah, namun di negri ini orang tua lah yang bertanggung jawab penuh. Komunikasi umi dengan para orang tua siswa menjadi intens. Kunci sebuah hubungan adalah keseimbangan, terlihat amatlah seimbang hubungan yang terjalin antara umi, para orang tua dan murid. Dukungan orang tua cukup baik bagi umi dkk serta sekolah tersebut.
Meaning (Makna)
Umi mengejar tujuan bersama, yaitu tujuan mendidik generasi penerus. Kebermaknaan dalam hidup akan lebih mudah diraih jika yang dikejar bukan hanya tujuan pribadi semata. Tujuan yang sifatnya kolektif dan melibatkan orang banyak seringkali justru mampu menghadirkan butir-butir bahagia di hati kita. Umi sudah , sedang dan insyaa Allah terus melakukan itu.
Accomplishment (Sukses meraih prestasi)
Jika kita masih sibuk dengan prestasi pribadi, umi sudah melampaui itu. Ia begitu menikmati proses untuk mencapai prestasi itu sendiri. Proses bagaimana ia dan tim nya menyusun kurikulum untuk anak-anak. Proses bagaimana anak-anak antusias dalam belajar. Proses bagaimana pasang surut motivasi anak-anak. Proses bagaimana tantangan internal maupun eksternal yang menghadang. Dan hasil yang diraih berupa prestasi anak didik yang insyaa Allah sholeh dan sholehah. Kesuksesan umi dan tim nya dalam mendidik anak-anak Indonesia, membuatnya juga dipercaya mengajarkan agama untuk anak-anak berkebangsaan lain.
Bahagia umi adalah salah satu representasi bahagia hakiki. Bahagia yang tak hanya diukur dengan materi, namun bahagia yang ditakar dengan bersih dan tulusnya hati. Sambil menyimaknya mengajar Al Qur’an terlihat disudut sana sekelompok anak Pakistan, India, Arab, Libanon, Palestina yang mengaji bersama umi. Ukhuwah islamiyah dirajut indah di tangan dingin seorang muslimah seperti umi, barakallah adindaku sayang. Semoga Allah swt senantiasa menjaga dan memudahkan segala urusan adinda sklg.
Note : Nama Umi War adalah nama samaran
Lakemba-New South Wales , 25112016  Jam: 03.21 waktu Lakemba (WIB :23.21 tgl 24112016)






[i] PERMA  (Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Accomplishment) adalah Well Being Formula dari Martin Seligman

Senin, 21 November 2016

Catatan dari Sydney 1 (Belajar Karakter di Perantauan)



            Berita yang terpampang di negeri sendiri seringkali membuat kita menahan nafas karena isi berita yang bertentangan dengan hati nurani kita. Berbagai borok moral rasanya sudah menjadi menu berita yang lazim untuk dikonsumsi masyarakat. Borok yang aslinya adalah luka di tubuh kita, biasanya akan berdarah dan bernanah jika tak segera dimanajemeni dengan baik. Demikian pula borok karakter, akan berdarah, bernanah bahkan mungkin berulat jika borok tersebut dibiarkan saja bahkan diterima sebagai sebuah kelaziman.
            Terus terang kita yang mestinya bangga kadang dibuat malu hati menyandang nama besar sebuah negri. Negri yang luas dan indah lengkap dengan kekayaan sumber daya alam plus kekayaan sumber daya manusia, mestinya membuat kita penghuninya menjadi bangga. Namun kenyataannya banyak borok yang membuat kita jadi malu hati dan kebanggaan itu terkikis perlahan jika kita tidak mengobatinya dari sekarang.
            Di negri orang saya menemukan jati diri anak negri yang sebenarnya. Salah satunya saya lihat dari sosok Bang Anwar dan kak Nafisah. Perantau asal Aceh yang mengadu peruntungan nasib di negri Kanguru. Sejak awal berkenalan dengan keluarga ini, saya sudah merasakan aura positif yang mengalir. Bahasa verbal yang akrab dan lugas, bahasa wajah yang ramah dan tulus ditambah dengan bahasa tubuh yang apa adanya. Bang Anwar bekerja sebagai tenaga kerja semi-skill  dengan gaji yang cukup memadai untuk kehidupan di Australia. Saya tak tahu persis apa jenis pekerjaannya, yang menarik bagi saya adalah kalimat-kalimat yang mengalir penuh dengan isi positif dan pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.
‘Disini kita belajar bagaimana disiplin, ada seseorang yang parkir di lokasi parkir difabel maka segera akan datang petugas untuk melakukan tilang’
‘Jangankan tawar menawar, dialog pun secukupnya. Petugas melihat kesalahan dan segera melakukan tugasnya untuk melakukan tilang’
‘Disini kita belajar menyintai ciptaan Allah swt. Kita tak boleh sembarangan menebang pohon, satu pohon kita tebang walaupun itu di depan rumah kita akan didatangi petugas dan didenda’
‘Disini kita belajar menyintai dan mengkonsumsi produk sendiri. Pemerintah tak akan mengimpor apapun yang bisa dihasilkan di negri sendiri. Dengan cara ini, para petani makmur, pengusaha lokal juga terlindungi’
‘Disini kita belajar menyayangi anak kita sebagai manusia seutuhnya, saat usia anak maka bermain pun menjadi porsi utama. Jarang sekali ada PR, kebahagiaan, kerjasama, saling tolong menolong lebih diutamakan daripada sekedar nilai angka dari  PR’.
Bang Anwar terus bercerita, kami semua terkesima mendengarnya. Terkesima bukan hanya karena isi cerita itu, namun saya khususnya terkesima karena itu dari sosok yang bersahaja.  Sambil mencicipi hidangan yang disuguhkan, azan pun bergema. Bang Anwar bersama Bang Bachtiar (suamiku) & Thariq (anakku) bergegas menuju masjid, tinggallah aku, kak Nafisah  & putri semata wayangnya ‘Fatimah azzuhra’  di rumah itu.  Setelah aku dan kak Nafisah shalat maghrib, kak Nafisah menghidangkan makan malam. Sambil menunggu yang lainnya, ia melanjutkan dialog tentang dirinya dan keluarganya.
            ‘Apa yang disampaikan abang tadi sepenuhnya benar, coba kakak lihat bagaimana bentuk rumah disini. Sederhana kan?’
‘Gedung tinggi hanya apartemen, Mall, perkantoran, kampus dan sejenis.Rumah tinggal bentuknya sederhana. Tidak ada yang berlebihan atau terlalu mewah. Meskipun perlengkapan serba modern namun tetap saja  lebih ditekankan pada fungsi peraatan itu, bukan kemewahan tampilannya’
‘Demikian juga pakaian, indah , rapi namun tetap bersahaja. Kakak silakan lihat mebel di rumah saya, ini rata-rata adalah barang second atau hibah. Kita disini saling membantu satu dengan yang lain, apalagi sesama perantau’
‘Jika di Indonesia, anak seusia Fatima sudah bisa minta ini dan itu. Namun disini tidak. Itu karena di sekolahnya para guru juga tampil bersahaja, anak-anak pun fokus bermain dan belajar. Anak-anak tak diajarkan untuk bermewah-mewah’
Bang Anwar, kak Nafisah, fatima  dan banyak keluarga perantau lainnya  yang belajar karakter positif di negri ini juga negri-negri lainnya tentu saja.  Kak Nafisah, tipe perempuan gigih yang menjadi ibu rumah tangga sekaligus melakukan kegiatan ekonomi produktif di rumahnya.  Menerima jahitan baju dan masakan rantangan menjadi kegiatan yang mendatangkan income tambahan buat keluarga mereka.
‘Berapa kak, ongkos jahit sebuah gaun?’
’30 dolar saja’
Ternyata justru lebih murah dari Banda Aceh. Jika di Banda Aceh, sehelai gaun sederhana  dibandrol 300 ribu (setara 30 dolar Australia) dan gaun renda bisa dibandrol dua kali lipat dari itu. Namun ongkos jahit di tempat kak Nafisah memberlakukan harga sama, kain katun atau renda tetap saja 30 dolar ongkosnya.
            Apa kita harus buka bengkel karakter[1] di negri asing, kemudian kita ekspor anak bangsa yang punya borok culas, iri dengki, korupsi, tamak, pembohong dan segdang borok lain untuk masuk ke bengkel tersebut ?  Berapa biayanya? Hehehe. Wah saya lupa, itu semua kan salah satu muaranya adalah keteladanan. Jika pingin rakyat sederhana, silakan sang pemimpin sederhana. Jika pingin rakyat cinta produk negri sendiri, ya jangan sedikit-sedikit impor . Jika ingin rakyat disiplin, ya tetapkan peraturan secara konsekuen dan konsisten.  Sambil melamun memimpikan indahnya negri tercinta lengkap dengan manusia-manusianya yang bersahaja tiba-tiba tersentak mendengar ajakan kak Nafisah untuk makan malam.
‘Silakan makan, jangan malu-malu’ , meja makan penuh, pinggiran Sydney terasa di Aceh.................ada tumis udang dan kerupuk muling disana.
Lakemba, New South Wales,  22112016  Jam 02.00 Waktu Sydney








[1] Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa; Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Jumat, 11 November 2016

SANG KANDIDAT 1 (A Psycho-Story by Nur Janah AlSharafi)



            Jaket kulit hitam dilengkapi dengan kemeja dan celana jeans hitam adalah kemasan luar yang ditampilkan sosok ini untuk membangun wibawanya. Bukankah warna hitam adalah warna gradasi lengkap yang selalu dikonotasikan untuk mendongkrak citra si pemakainya ? Bisa jadi iya, namun jelasnya memang itu yang dimaksud. Hitam adalah wibawa dan hitam adalah kekuasaan. Sosok ini mendampingi beberapa orang yang sedang berjuang untuk mendapatkan kesempatan kedua mengikuti sebuah kompetisi penting memperebutkan posisi di negri Antara. Yang mana ya orang yang diperjuangkan itu ? iya mataku mesti cermat menganalisa karena jumlah rombongan yang dibawanya cukup banyak, barangkali ada asisten, keluarga, pihak terkait bahkan mungkin juga para pemburu berita.
‘Ibu hadir atas nama siapa?’ tanyanya menyelidik.
‘Saya hadir atas nama diri saya sebagai asesor yang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan’
‘Mana legalitas untuk dapat melakukan pemeriksaan hari ini?’
‘Ini legalitas saya’
‘Coba lihat, ini adalah SK yang dibuat oleh Presiden Negri Antara. SK ini telah kadaluarsa karena berlaku hingga kemarin tanggal 31 Oktober 2016. Sementara hari ini adalah tanggal 1 November 2016’
Nada yang tinggi dan menyerang dengan lantang disuarakan oleh si jaket hitam. Ada nada keras, marah dan menyerang pada kata-kata yang diucapkannya. Mengapa kata-katanya begitu kasar? Apakah itu gayanya atau ia menjadi demikian karena frustrasi ?[1] Terus terang aku terpojok dengan pernyataannya. Akhirnya aku diam dan meminta waktu sejenak untuk berkonsultasi dengan sekretariat kepresidenan negri Antara.
‘Ibu mesti tetap lakukan pemeriksaan tersebut, karena ini adalah kesempatan terakhir buat kandidat’
‘Namun SK saya sudah kadaluarsa pak, apakah Bapak presiden dapat memberikan SK baru buat saya hari ini?’
‘Ditunggu ibu, SK akan segera diemail dalam beberapa saat’
Menunggu yang paling tidak enak, adalah menunggu sesuatu sambil diadili oleh beberapa pasang mata yang penuh selidik. Aku merasakan mata itu menghunus jati diriku secara perih. Ada kombinasi cibiran bibir yang mengecilkan apakah aku mampu meyakinkan sekretariat kepresidenan negri Antara untuk menerbitkan SK secara ekstra kilat. Kulirik gadgetku dan ya.....email yang ditunggu telah kuterima.
‘ini SK perpanjangan yang anda minta’
Si jaket hitam membaca email tersebut  dan ekspresinya berubah total dari ekspresi bermusuhan menjadi netral.
‘Kalau begitu saya ijinkan klien saya untuk diperiksa hari ini’
            Lepas dari si jaket hitam , kini aku berhadapan dengan sosok peserta kompetisi kandidat calon Kepala Distrik Area Negri Antara. Sosok yang ini lagi, gumamku dalam hati. Seingatku sosok yang sama telah kuhadapi sebulan yang lalu, pada kompetisi umum. Ia gagal total dan dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi untuk melanjutkan kompetisi. Ia hadir lagi semata-mata karena undang-undang negri memperbolehkan siapapun peserta kompetisi yang gagal pada kompetisi umum boleh meminta pemeriksaan ulang apabila dapat memperjuangkan surat ijin dari presiden. Kenyataannya ia ulet dan ia mendapatkan surat itu. Tepok jidat
‘Ijinkan saya menjelaskan lebih dahulu metode dan aspek pemeriksaan yang hendak dilakukan’
‘silakan’
‘Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan kompetensi bapak sebagai kandidat kepala Distrik Area. Kompetensi yang akan diperiksa adalah kompetensi utama, kompetensi peran dan kompetensi pendukung’
‘Metode pemeriksaan multimethod sehingga Bapak akan dihadapkan pada soal tertulis, wawancara, studi kasus, simulasi dan metode pendukung lainnya’
Aku mencoba menyimak file pemriksaan awal yang bersangkutan.  Kompetensinya jauh dari yang diharapkan. Terjadi gap yang cukup jauh antara kompetensi yang dituntut dengan yang ditampilkan. Yah...memang kadangkala seseorang tak mampu bercermin dengan cermat. Merasa cantik atau tampan mungkin biasa, apalagi jika sudah dipoles dengan sapuan make up dan dandanan yang mendongkrak. Namun merasa diri pintar dan hebat, agak lebih sulit untuk diterima. Bukankah kepintaran itu mengalir dai setiap kata dan tindak yang dipilih, dan bukankah kehebatan itu tercermin dari setiap karya yang  dihasilkan oleh pikiran dan tangannya. Jika kemudian cermin diri semakin buram, akan lahir sosok manusia nekad yang merasa diri paling oke dan hebat sehingga merasa mampu menduduki singgasana yang puncak sekalipun.
‘Bu, kasus yang harus saya pecahkan ini terlalu rumit. Saya tak bisa menyelesaikannya meskipun ibu memberi waktu 60 menit’
‘Bapak bisa mencobanya silakan’
‘Sudah saya simak, baca dan coba’
‘ini baru 10 menit berjalan pak, masih ada 50 menit lagi’
‘Saya merasa terlalu memaksakan diri untuk minta dilakukan pemeriksaan ulang. Saya mohon disudahi saja bu pemeriksaan ini’
Tanda tanya besar tiba-tiba bertengger di otakku, apa gerangan yang membuatnya sadar diri tiba-tiba. Meski hal itu bisa saja terjadi, bukankah aliran perubahan pikiran manusia bisa saja berlangsung dengan sangat cepat[2].  Laki-laki itu tiba-tiba berubah wajahnya, dari wajah yang tak bersahabat dan penuh curiga menjadi wajah yang ramah dan tawadhuk. Ia gontai berjalan keluar ruangan menemui penasehatnya, sosok berjaket hitam . Si jaket hitam terlihat marah-marah sambil mengangkat tangannya. Sang kandidat diam saja, ia terlihat menunduk. Wajahnya makin sendu dan tawadhuk. Dari kejauhan kulihat langkahnya yang ringan menuju mushola untuk mengambil air wudhuk. Sebuah kesadaran diri yang besar telah terjadi, bisa jadi ia disebut kalah karena dianggap tak memenuhi kualifikasi dalam kompetisi. Namun sejujurnya ia kini telah bermetamorfosa menjadi hamba yang sejati, telah menemukan dirinya sendiri. Wallahu a’lam
Batoh, 12 November 2016



[1] Berkowitz (1993) mengatakan bahwa frustrasi menyebabkan sikap siaga untuk bertindak secara agresif karena kehadiran kemarahan yangdisebabkan oleh frustrasi itu sendiri.
[2] William James (1890-1950) menggambarkan pikiran sebagai arus kesadaran (stream of consciousness), aliran yang terus-menerus dari sensasi, citra, pikiran, dan perasaan yang terus berubah. Pikiran kita terpacu dari topik satu ke topik berikutnya: dari berpikir tentang segala sesuatu